Langsung ke konten utama

Alih-Alih Perihal Tercela, Justru Anda Butuh Sikap Negatif

Alasan dari judul itu, sebab tulisan ini mengaitkan antara Sikap Negatif dan kebijaksanaan dalam konteks penyelesaian sebuah masalah. Lantas, pertanyaannya, mengapa harus dikaitkan dengan penyelesaian masalah? Karena dunia dipenuhi “masalah”—sehingga menurut ajaran agama samawi—Tuhan menciptakan “pemimpin di muka bumi” yang disebut manusia untuk menyelesaikan problem-problem itu.

        Maka, tujuan Anda hidup tidak lain untuk menyelesaikan sebuah masalah, baik secara personal atau persoalan yang lebih luas; baik perihal sepele atau kesukaran yang luar biasa; baik penyelesaiannya bersifat sementara atau jangka panjang, tapi yang pasti, kalau tidak dapat menyelesaikan masalah, artinya Anda telah gagal sebagai produk Tuhan yang ditugaskan untuk memimpin muka bumi, sehingga kesimpulannya, kecerdasan untuk menyelesaikan masalah akan menentukan kualitas Anda sebagai “manusia”. Tanpa kualitas, Anda dan saya tak lebih unggul dari binatang gajah di pertunjukan sirkus—yang menggunakan seluruh potensinya—untuk dapat berdiri dengan dua kaki.

Bill Gates memiliki banyak uang ketika mengatasi masalah “kesulitan membuat dokumen” bagi orang-orang di dunia. Lalu, pada waktu yang lain, Jan Koum membuat aplikasi WhatsApp populer karena mengatasi masalah “gangguan iklan dalam komunikasi”. Pun, ketika perang dunia kedua, Osamu Tezuka menjadi legenda Anime karena menyelesaikan masalah “tidak ada hiburan” bagi umat manusia saat itu. Jadi, menilik dari ini, ternyata “masalah” adalah peluang yang akan membuat level “kemanusiaan” Anda meningkat, sehingga semakin besar masalah yang diselesaikan, maka “jiwa Anda berambisi memberi” dan mental Anda semakin manusiawi. Kebalikannya, tanpa kesadaran untuk menyelesaikan masalah, Anda—maaf—hanya ahli menggeser layar Smartphone tanpa “gairah” mengungguli sebuah ide.

Lantas, masalah sudah menjadi “ganyangan” umat manusia di dunia ini, sehingga hidup mereka hanya digunakan untuk mencari solusi atas masalah-masalah tersebut. Maka, di sinilah saya menyarankan untuk tidak menampik Sikap Negatif dalam menyelesaikan problem-problem, sebab tanpa Sikap Negatif Anda akan membuat “masalah” menjadi “kesulitan baru” yang terus bertumpuk-tumpuk, sehingga persoalan-persoalan itu berubah menjadi “gunung masalah” yang secara logis mustahil diselesaikan.

          Alhasil, kalau sudah berpikir “masalah mustahil selesai”, maka Anda akan merasa putus asa dan tanpa perlu menunggu lama, rasa “kemanusiaan” Anda akan berubah menjadi mental menyedihkan yang “jahiliyah”, sehingga Sikap Negatif bukan sikap tercela yang harus ditolak secara prinsip di dalam masyarakat, akan tetapi justru “solusi” untuk mengatasi berbagai masalah yang pelik.

Dewasa ini para pendidik umum merekomendasikan untuk “membuang” Sikap Negatif dan fokus pada Sikap Positif saja. Lalu, mereka mengaitkan itu dengan “persepsi norma” ataupun hal yang besifat ke arah agama, sehingga para pendidik itu membuat orang percaya bahwa Sikap Negatif adalah “asal-usul masalah dan akar kejahatan” yang harus dimusnahkan dari muka bumi.

          Akibatnya, kebanyakan orang berpikir Sikap Negatif itu “amoral, kriminal, hina-dina dan dosa”, lantas orang-orang ini secara sengaja menutup diri dari “pengetahuan” tentang Sikap Negatif dan enggan untuk mencari kebenarannya dari berbagai sumber, sehingga bersebab itu, mereka penuh ketidakseimbangan dan hanya tahu kalau “Sikap Positif itu sangat baik”. Padahal, mereka yang “asal percaya” dan malas mencari wawasan sejenis, merupakan salah satu tindakan tercela bagi manusia yang dianugerahi Tuhan “sebuah akal” untuk berpikir.

Masalah permusuhan memang dapat diselesaikan dengan Sikap Positif seperti “meminta maaf terlebih dahulu, bersikap baik terhadap orang yang memusuhi, dan bersikap tegas bila dimusuhi secara berlebihan”. Akan tetapi, semua masalah permusuhan—misalnya yang lebih kompleks—tidak dapat diselesaikan hanya dengan cara-cara seperti itu, bahkan kalau tetap menggunakan cara seperti itu, maka akan menimbulkan “masalah” baru yang tidak hanya merugikan “kita” sendiri namun juga “orang yang kita cintai”.

           Misalnya, dahulu—tanpa bermaksud membahas agama—jutaan Orang Yahudi atau Israel “dimusuhi” dengan cara dibantai, dan sekarang menguasai hampir seluruh Palestina dan dibela negara-negara besar seperti Amerika. Apa rahasianya? ketika mereka dulu dimusuhi, alih-alih terpaku pada Sikap Positif untuk menyelesaikan masalah kaumnya, mereka justru memadukan antara Sikap Positif —baca: ilmu pengetahuan—dan Sikap Negatif—baca: kelicikan untuk merebut tanah Palestina—sehingga masalah “permusuhan” mereka dapat teratasi secara tuntas. Hari ini, kebalikannya, Rohingnya di Myanmar hanya terpaku pada Sikap Positif saja, sehingga masalah kaum mereka terus bertumpuk-tumpuk.

Maka, ada kalanya dunia tidak hanya membuat Anda memilih antara “baik dan buruk”, tetapi ada saatnya Anda dipaksa memilih antara “buruk dan sangat buruk”. Lantas, pilihan mana yang lebih baik, itu tergantung kebijaksanaan Anda sendiri. Anda bisa “tidak memilih keduanya” atau dapat juga “memilih keduanya”, sehingga untuk urusan “masalah terselesaikan”, itu tergantung ketepatan Anda untuk memilih.

           Anda dapat memilih “menyelesaikan skripsi dengan cepat”, anda juga dapat berdalih “buat skripsi tak perlu buru-buru karena yang penting adalah pengalaman organisasi”, pula, Anda juga dapat menampik seperti “skripsi dan kuliah tidak penting karena saya akan drop out dan buktikan bisa sukses”, lantas, untuk hasil pilihan mana yang lebih berhasil, itu ditentukan dari ketepatan pilihan Anda sendiri.

Kalau Anda membaca buku Rich Dad’s Increase Your Financial IQ, maka Anda akan mendapati bagaimana Sikap Negatif Sang Robert Kiyosaki yang cerdik melawan riba, sehingga alih-alih keluar dari sistem riba, justru dia memanfaatkan “kecurangan” itu untuk peluang menjadi kaya. Tak perlu jauh-jauh, acara televisi kita yang memuja ratting juga tak menampik Sikap Negatif untuk meraup rupiah, mereka membudayakan gosip sebagai bahan pembicaraan, atau bahkan membuat gosip menjadi fakta, sehingga—tanpa bermaksud mengajak untuk melakukan hal buruk yang sama—walaupun mereka dikecam berbagai pihak, paling tidak, masalah “tidak punya uang” mereka terselesaikan karena laba penghasilan.

            Di sisi yang berbeda, atau, di dalam dunia fiksi, kalau Anda menonton anime berjudul Kakegurui dan One Outs, Anda akan mendapati karakter utama yang bergelut dalam dunia judi, akan tetapi secara bertahap mengubah lingkungannya menjadi “lebih manusiawi”.

Membunuh sesama manusia adalah Sikap Negatif, tapi Algojo di Saudi Arabia tetap memenggal kepala demi keadilan, sehingga sebetulnya, Sikap Negatif dapat mengatasi masalah bila digunakan secara “tepat”. Masalah justru timbul jika Anda “mengatasi masalah dengan cara yang sama”, sebab, artinya Anda menutup diri dari “pengetahuan” untuk menemukan solusi, sehingga hidup anda hanya penuh dengan “mengeluh dan penyesalan”.

            Pula, dalam kehidupan asmara, kalau Anda pria dan punya masalah “perempuan yang Anda sukai ternyata suka pria lain”, Anda dapat memilih solusi berupa “mengikhlaskan” apabila perempuan itu hanya teman Anda, akan tetapi, jika si perempuan ternyata istri Anda, tentu memilih solusi yang sama akan menambah “masalah” baru.

Maka dengan inisiatif untuk menyederhanakan, saya mencetuskan rumus berikut ini:

Ilmu Pengetahuan + Informasi yang Tepat + Pertimbangan yang Bijaksana + Keseimbangan antara Sikap Negatif dan Positif = Kesempurnaan Solusi

Jadi, untuk memperoleh “sigma kesempurnaan solusi”, maka semua bagian harus saling tambah-menambah dan tidak ada bagian yang dapat “berdiri sendiri”, sehingga “ilmu pengetahuan” saja tidak cukup untuk mencapai sigma kesempurnaan solusi, pun, begitu pula jika hanya mengaplikasikan “informasi yang tepat” atau “pertimbangan yang bijaksana” secara terpisah. Adapun “keseimbangan antara sikap positif dan negatif” didapat dari pengalaman Anda secara sosial berupa “intuisi”, sehingga pelatihan intuisi untuk mendapatkan keseimbangan kedua sikap ini begitu penting, sehingga intuisi yang tepat akan mampu mengantarkan anda pada “solusi yang brilian”.

Sebagai contoh untuk “penerapan rumus Kesempurnaan Solusi” di atas, mari kita lihat sepak terjang sang pencipta karakter Mickey Mouse, yaitu Walt Disney. Awalnya, Disney bersekolah di McKinley High School mengambil kelas menggambar dan juga kursus menggambar di Chicago Art Institute—baca: Ilmu Pengetahuan—lalu, Disney pindah ke Kansas City Film Ad Company, sehingga mendapati gambar bergerak punya prospek pasar yang bagus—baca: Informasi yang Tepat—lalu dia dan kakaknya membangun Disney’s Brother Studio—baca: Pertimbangan yang Bijaksana—kemudian, suatu saat dia “sengaja membiarkan” agen Disney mencuri karakter Oswald buatannya untuk kepentingan “trend berita”, kala kian, dengan sikap pantang menyerah, dia menciptakan Mickey Mouse yang menjadi langkah awal kesuksesan sang animator—baca: keseimbangan antara Sikap Negatif dan Positif—sehingga sampai sekarang nama besarnya terus terkenang.

Contoh lain adalah Frank Wang Tao, sang pencipta drone pertama kali yang berkuliah karena terobsesi dengan helikopter—baca: Ilmu Pengetahuan—sehingga, saat menyelesaikan proyek kuliah dan mengetahui “benda berkamera yang terbang” adalah inovasi yang menguntungkan secara marketing—baca: Informasi yang Tepat—lantas, pada tahun 2005 dia membuat drone dan meng-upload videonya di internet untuk kepentingan promosi—baca: Pertimbangan yang Bijaksana—lalu, ketika seorang pembeli menawar drone miliknya, dia mengkapitalisasi harga dari 2000 dolar menjadi 6000 dolar, dan seketika itu, sang inovator mendapat “data yang tepat” secara marketing untuk mendirikan perusahaan DJI Innovations yang fokus memproduksi drone—baca: keseimbangan antara sikap negatif dan positif—sehingga itu cikal bakal produksi drone merek Phantom yang terkenal.

Kesimpulannya, seluruh kehidupan Anda mustahil tidak berdampingan dengan masalah, sehingga mau tidak mau, cara mendapatkan solusi yang sempurna akan mencerminkan sejauh mana level kecerdasan Anda. Maka, dengan membuang Sikap Negatif akan membuat Anda tidak mencapai “kesempurnaan solusi” untuk memecahkan berbagai masalah kehidupan. Akhir kata, dimohon untuk menelaah artikel ini dengan bijaksana, tidak mudah percaya terhadap opini saya, melakukan kroscek dan menambah wawasan.


Terima kasih telah membaca :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingkah Anda Punya Banyak Teman?

Jawabannya tidak penting. Karena orang yang “punya banyak teman” justru tidak berkembang, berkemampuan rata-rata, menolak berpikir besar, malas bercita-cita tinggi, dan terus-menerus “dikendalikan” lingkungan, sehingga mereka “picik secara bertalu-talu”; sehingga  skill  mereka hanya “diasah setengah hati”; sehingga pemikiran mereka tidak kreatif; sehingga impian mereka bersifat remeh-temeh. Kemudian alhasil, kalau Anda sudah “punya banyak teman”, Anda akan “bias” dan menganggap jika “kemampuan mencari teman” adalah bentuk pengembangan diri, padahal sejatinya, Anda hanya “membilik-bilikkan diri Anda pada kecupetan”; Anda hanya melakukan “langkah biasa yang semua orang bisa”; Anda hanya “bertindak linear, alih-alih lateral”; Anda hanya bertujuan hina-dina seperti “mencari perhatian”. Maka, menilik dari semua itu, kalau tujuan hidup Anda untuk “menambah wawasan, memperbaiki kualitas diri, bertindak  out of the box , dan mendapat penghargaan besar”, lanta...